You are here
Wariskan Tulisan, Menulis Warisan Copywriting Properti story writing 

Wariskan Tulisan, Menulis Warisan

Selain batu nisan, warisan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak-cucu kelak? Batu nisan jelas, tertera di sana nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian. Minimal begitu, yakni bahwa kita pernah hidup. Tulisan di batu nisan itu membantu generasi sesudah kita mengenang.

Tanpa berkarya apa-apa, batu nisan mencatat kita pernah ada. Namun, kita ada untuk apa, batu nisan tak merekamnya. Ingatan oranglah yang menyimpannya.

Lalu, batu nisan itu menjadi penasihat paling baik. Optimi consilarii mortui, kata nasihat Latin.  Ya, nasihat tentang apakah cukup kita meninggalkan batu nisan itu saja?

Tidak cukup. Batu nisan terlampau abstrak sebagai penanda warisan. Tanpa ingatan, tulisan pada batu nisan terlalu terbatas menginformasikan tentang siapa si orang yang sudah meninggal, dan apa yang pernah diperbuatnya sepanjang hidup. Jika ingatan itu tak dituangkan, orang lain tak akan tahu. Dan jika tuangan itu berupa lisan belaka, lenyap pula bersama debu.

Benar. Saya ingin mengatakan, wariskan kisah hidupmu dalam tulisan. Jika perlu, bukukan! Tulisan akan menjadi pengingat yang baik, yang bisa dibuka setiap saat oleh generasi-generasi berikutnya secara utuh. Generasi itu bisa menduplikasi pengetahuan kita, pengalaman kita, kecakapan kita, nilai-nilai kita, dan sikap-sikap kita hanya dengan membaca tulisan kita atau tulisan tentang kita.

Oh ya, tentang “tulisan kita” dan “tulisan tentang kita” ini penting. Ada setidaknya dua pilihan. Pertama, “tulisan kita” berarti kita yang menulis. Isinya bisa tentang kita atau pandangan kita tentang sesuatu di luar kita. Kedua, “tulisan tentang kita” bisa kita sendiri yang menulis atau orang lain yang menulis tentang kita.

Apa pun itu, ada tulisan yang kita wariskan. Meski tulisan itu kemudian dicetak atau dibukukan, boleh disebut bahwa itu merupakan warisan tak terlihat (intangible). Ada wujudnya, namun hanya bisa dinikmati pesannya.

***

Warisan lain yang tak kalah penting harus bisa dilihat, dan karenanya berwujud (tangible). Banyak contoh untuk ini: harta benda. Ada rumah, kendaraan, tanah, dan… tabungan!

Nah, belakangan, topik mewariskan tabungan ini sangat menarik perhatian saya. Kisahnya bisa anda simak di bit.ly/kunto3i. Di luar bisnisnya, saya tertarik karena bisnis ini menghadirkan narasi baru tentang tabungan sebagai warisan. Bahwa bukan hanya tabungannya yang bisa diwariskan—dan ini narasi lama, melainkan bisnis tabungan itu sendiri juga bisa diwariskan—narasi baru.

Saya tertarik dengan narasi bisnis ini. Terutama, tentu saja, saya tertarik dengan narasi mereka yang menjalankan bisnis ini. Bahwa ada cara baru dalam mengelola uang dalam bentuk tabungan. Bukan uang besar, tapi akan menjadi tabungan besar ketika diwariskan. Bukan tentang uang banyak, melainkan karena banyak orang menabung maka uang itu begitu berharga.

Saya menulis, saya menabung, saya menyiapkan warisan. Bagaimana dengan anda?

 

Purwokerto, 23 Mei 2017
@AAKuntoA
www.aakuntoa.com
www.solusiide.com
www.dokudoku.id

Related posts