You are here
Standar Bayaran: Saya Subsidi Coaching NLP Pelatihan Menulis Buku 

Standar Bayaran: Saya Subsidi

Di luar materi pelatihan, pembicaraan yang hangat dengan panitia penyelenggara adalah tentang, “Berapa fee pembicaranya, Mas?” Awalnya, pembicaraan seperti ini bikin kikuk. Rasanya tak nyaman untuk dibicarakan. Namun, jika tak dibicarakan di depan, akan tidak nyaman di belakang.

Saya kemudian belajar, hal seperti ini sudah standar untuk dibicarakan. Meski tidak ada formula baku, atau tidak juga harus dibakukan, namun batasan tetap sebaiknya dibuat. Ukurannya sederhana: profesionalitas.

Pekerjaan profesional itu terukur. Materinya terukur, metodenya terukur, hasilnya terukur. Maka, bayarannya pun mesti terukur. Dengan begitu, pengundang juga bisa mengukur kemampuan mereka, apakah di bawah standar, di atas standar, atau satu standar.

Sebelum saya sampaikan bagaimana saya menentukan standar, saya mau cerita sedikit tentang penyelenggara pelatihan. Bagi pelatih menulis seperti saya, penyelenggara pelatihan adalah klien pertama saya. Klien kedua adalah peserta pelatihan. Klien ketiga adalah pembaca tulisan dari peserta pelatihan saya nantinya.

Berpikir sebagai klien, oleh karena itu, penting bagi saya. Ini standar pelayanan minimal, yakni berorientasi pada pelanggan. Orientasi pertama yang saya lakukan adalah pelatihan ini diselenggarakan untuk siapa dengan model apa? Apakah tiketnya dijual untuk umum? Apakah mendapatkan sponsor? Atau kegiatan sosial dan nonprofit?

Pemetaan itu akan menentukan apakah fee yang saya kenakan komersial atau bukan. Tentu ini semata tentang fee. Materi dan kesungguhan saya menyampaikannya sama. Komersial atau tidak tetap saya berikan materi secara serius. Kalau beda adalah tentang kedetailan materi serta kelanjutan (follow up) pendampingan sesudah pelatihan.

Berhasilkah cara itu? Tentu saja. Setidaknya, mereka yang menyelenggarakan pelatihan untuk tujuan berbagi, dan karenanya tidak mengambil keuntungan secara bisnis, menjadi tidak sungkan untuk mengundang saya. Sedangkan mereka yang memang meniatkan menyelenggarakan pelatihan untuk tujuan komersial, atau untuk kepentingan bisnis perusahaan, tentu saja langsung sepakat dengan tarif komersial yang saya terapkan.

Namun, setelah saya evaluasi, ternyata cara ini merepotkan. Bukan semata merepotkan bagaimana menimbang-nimbang pihak mana yang layak disodori tarif komersial dan mana yang sosial, melainkan merepotkan dari sisi saya sendiri. Sungguh merepotkan. Dan saya nggak suka dengan kerepotan ini.

Sampai akhirnya saya menemukan formula sederhana. Setidaknya sederhana bagi saya. Entah bagi yang menerima.

Begini sekarang kalau saya ditanya berapa standar bayaran jika mengundang saya sebagai pembicara seminar, trainer kelas menulis, atau coach, “Professional fee saya sekian. Kalau anda membayar saya lebih rendah dari itu artinya itu kemampuan anda membayar dan menghargai saya.”

Selesai. Standar saya tidak berkurang. Tidak turun. Sebaliknya, selisih kemampuan bayar dan standar itu saya subsidi!

 

Bali, 31 Juli 2017
@AAKuntoA
CoachWriter
www.aakuntoa.com

Related posts