You are here
Sesat Alur dalam Menulis: Cek Peta! Coaching Menulis NLP 

Sesat Alur dalam Menulis: Cek Peta!

 

Selain sesat nalar (logical fallacy), dalam jagat menulis dikenal istilah sesat alur (false plot). Sesat nalar jelas: menghubung-hubungkan premis-premis yang tidak berhubungan. Orang Jawa bilang “othak-athik gathuk” alias mereka-reka supaya tersambung.

Bagaimana dengan sesat alur? Secara sederhana, saya membahasakannya sebagai “jebakan akibat tak jelas tujuan”. Terbayang kan? Sesat pertama adalah tujuan yang tak jelas atau sama sekali tak punya tujuan. Padahal, sejatinya, tanpa tujuan tak bakal tersesat. Sebab, hanya yang bertujuan yang bisa sesat.

Akibat sesat pertama itu masuklah ke labirin penuh jebakan. Dalam menulis, labirin jebakan itu bisa diuraikan seruwet labirin itu sendiri. Saya berharap tak bikin anda jadi ruwet jika sebelumnya tidak, atau tambah ruwet jika sebelumnya anda sudah ruwet.

Menulis, sebelum saya kembali bahas pancingan di depan, adalah menyampaikan sesuatu atau banyak suatu pesan sedemikian rupa supaya sampai. Nah, supaya sampai itulah perlu alur penyampaian. Secara kronologis ada alur maju, alur mundur, alur menyamping, alur meninggi, alur mendalam, dan alur kombinasinya. Alur ini ditandai dengan tengarai waktu: menit, jam, hari, tahun, dan sebagainya itu.

Secara matematis, alur waktu itu ditandai dengan pengukuran tambah, kali, kurang, dan bagi. Supaya banyak maka ditambah: tambah tokoh, tambah kisah, tambah objek. Supaya berlipat-lipat maka dikalikan: lebih cepat, dipersingkat. Supaya sederhana maka dikurangi. Supaya mudah dipahami maka dibagi-bagi.

Secara psikologis, pergerakan alur ada di internal dan di eksternal, ada yang bergerak ke dalam (introvert), ada yang mencuat ke luar (ekstrovert). Ke dalam berarti datang, ke luar berarti pergi. Pergi itu mengecil, bagaimana dengan datang?

Secara sosiologis, ada alur terhubung ada alur teralienasi. Berhimpun atau soliter. Kontrak sosial muncul untuk mengakomodasi karakter individu-individu, entah supaya akur atau justru supaya terbentur.

Secara mudah…. Nah! Kenapa nggak dari tadi? Gimana cara mudahnya?

Saat menulis, sikap dasar yang penting adalah sadari dan alami! Hidup ini sudah menyediakan setiap peranti berikut hukum kerjanya. Pahami dulu dasarnya sebelum bermanuver. Beda manuver dengan paham dasarnya dengan manuver ngawur!

Kalau sudah pahami hukum dasarnya, mau bikin oplosannya mudah. Pembaca pun nggak mabuk atau mati kejang karena salah racikan!

Hukum kerja dasar itu apa? Peta! Ya, ikuti peta! Boleh saja menyimpang dari peta yang disediakan, asal sadari penyimpangan itu. Kagetmu akan memantik komentar, “Oooo sengaja muter-muter ya? Kirain tadi salah belok. Hmmm, kira-kira penulis mau putar balik di mana trus lewat mana ya?”

Beda dengan menyimpang karena melamun atau bengong. Kagetmu akan diikuti hunjaman batu dari pembaca, “Penulis payah!”

 

Bali, 5 Agustus 2017
@AAKuntoA
CoachWriter
www.solusiide.com

Related posts