You are here
Obituari, Seni Menulis Kematian Secara Hidup Coaching Menulis NLP 

Obituari, Seni Menulis Kematian Secara Hidup

Seketika, kabar kematian itu menyebar cepat lewat jejaring komunikasi. Seketika keterkejutan meluas…

“Hah, yang bener?”

“Meninggal? Kenapa?”

“Siapa sih dia?”

Beragam tanggapan bersahutan. Sederet pertanyaan bergelantungan. Lalu keluarga menerima banjir ucapan standar, “Turut berduka cita… Semoga….”

Tentu, ucapan seperti itu berharga bagi keluarga yang ditinggalkan. Memberi penghiburan, terutama jika kematian yang dihadapi begitu mendadak.

Untuk sesaat, penghiburan itu cukup. Namun, untuk selanjutnya, mereka yang ditinggalkan itu memerlukan penguatan yang lebih, terutama dari aspek mental. Bagaimana pun, sesiap apa pun, kematian tetap saja peristiwa yang mengaduk perasaan. Kematian tetaplah kehilangan, terlebih kehilangan sesuatu yang berharga.

Sayang, dari banyak upacara kematian yang sempat saya ikuti, sedikit sekali penghiburan yang mendalam, yang penghiburan itu bisa jadi penopang hari-hari sesudah upacara pelepasan jenazah selesai. Kebanyakan sambutan kematian begitu kering. Sebagian malah terasa basa-basi. Seperti tak sungguh-sungguh berbela rasa. Lebih sekadar memenuhi kaidah seremoni.

Pun, ucapan duka di media sosial begitu-begitu saja. Seolah sambil lalu, banyak yang sekadar meninggalkan jejak di status keluarga duka: RIP.

Sedikit yang meluangkan waktu untuk memeluk keluarga duka dengan ucapan yang lebih hangat: obituari. Padahal, kematian adalah saat yang tepat untuk mengabarkan kepada keluarga betapa pantas mereka bersyukur bahwa keluarga yang meninggal itu berharga di mata sahabatnya, berprestasi di tempat kerja, inspiratif dalam karya, masih memiliki cita-cita tinggi, atau unik dalam hal-hal tertentu.

Jika ucapan duka disampaikan dalam obituari, air mata keluarga tidak lagi berderai karena sedih, melainkan meluap karena bangga: anak bangga pada almarhum orang tuanya, suami bahagia pernah didampingi mendiang yang spesial, keluarga besar bersyukur boleh menjadi bagian dari sosok yang dihormati orang. Dst.

Jika ini terjadi, ungkapan “yang tabah ya” itu tak perlu lagi. Keluarga tegar berkat pengakuan orang atas keluarganya yang meninggal. Dan ketegaran itu akan awet setiap kali mereka membaca kembali kisah keluarga mereka di hati sahabat-sahabatnya.

Dengan menulis obituari, tidak usah risau jika tak sempat melayat. Dengan obituari, lengkapi tanda cinta yang sudah diwakili oleh karangan bunga. Dengan obituari, yang mati akan hidup abadi dalam sanubari.

Sementara saya sedang selesaikan penulisan buku seputar PANDUAN MENULIS OBITUARI, saya ingin berbagi ruang belajar di kelas Whatsapp tentang topik ini. Meski ringan, kelas ini saya bikin agak panjang durasinya supaya kita bisa berlatih membuat tulisan obituari dari berbagai sisi.

Anda yang kerap ingin mengungkapkan kenangan akan sahabat atau saudara yang meninggal, namun tidak tahu caranya, saya undang bergabung dalam kelas ini dengan menghubungi saya di WA bit.ly/AAKuntoA, sekarang…

Ada dua jalur: klasikal (diikuti banyak peserta) atau personal (privat). Waktu belajar sebulan.

***

Jika orang lain yang dipanggil Tuhan mendului, tulisan yang akan kita bikin ini pengganti tabur bunga. Jika kita yang dipanggil duluan, tulisan ini ibarat prasasti, batu nisan tempat orang membaca siapa kita.

Jika orang lain yang meninggal duluan, kita yang menulis tentang dia. Jika kita mati duluan… Hmmm, kita tidak tahu apa yang orang tulis tentang kita.

Tidak tahu. Kematian itu pasti. Waktu dan cara matinya yang misteri.

Jogja, 6 September 2017
AA Kunto A CoachWriter

Related posts