You are here
Memori Episodik: Tumpuk Aja Nggak Papa Coaching Menulis NLP 

Memori Episodik: Tumpuk Aja Nggak Papa

 

Anak-anak, dalam usia emasnya, bisa belajar begitu cepat akan banyak hal sekaligus. Mereka sepertinya hanya mengamati dan mendengarkan, dan seketika belum paham apa yang mereka amati dan dengarkan itu. Tahu-tahu, di waktu tertentu kelak kemudian hari, mereka menguasai sesuatu tanpa diketahui kapan persisnya mereka belajar.

Bagaimana orang dewasa bisa belajar secepat dan sebanyak anak-anak di usia yang kerap disebut sebagai usia dengan keterbatasan kapasitas? Saya tersihir oleh pertanyaan ini. Ada banyak pengalaman yang saya jumpai sampai akhirnya saya setuju untuk turut mempertanyakan ini.

Pengalaman itu hadir di ruang training dan coaching yang kerap saya bawakan. Selalu menantang untuk lekas menaklukkan peserta atau klien di menit-menit awal supaya mereka bisa segera mengikuti materi yang kemudian akan saya bawakan.

Oh ya, pengalaman serupa juga saya alami ketika menulis. Mungkin sebagian dari anda juga ada yang mengalami seperti saya. Saat menulis, dalam benak saya terlintas hasrat besar untuk membuat pembaca lekas menerima semua pesan saya tanpa ada filter penghalang. Saya ingin semua pembaca saya mengangguk saja saat melahap kata demi kata yang saya tuangkan. Tanpa ada yang menggeleng.

Alih-alih membahas tentang blok mental, saya lebih memilih untuk berpikir bagaimana cara membuka pikiran peserta atau pembaca supaya tujuan saya tercapai tanpa mereka merasa disabotase. Saat pikiran saya mengarah ke sana, saya kemudian menemukan pembahasan tentang bagaimana otak manusia bekerja sehingga mereka bisa belajar cepat dan banyak, bahkan dalam waktu yang serentak.

Bacaan saya menunjukkan, ada otak manusia yang disebut sebagai memori episodik (episodic memory) dan memori semantik. Dalam konteks berbahasa dan berkomunikasi, memori episodik berarti kemampuan mempelajari kata dan kalimat. Sedangkan memori semantik menfasilitasi kelancaran penyampaian dan bagaimana mengategorisasi pesan.

Kedua memori itu sangat menolong manusia menerima informasi dalam jumlah banyak dan dalam waktu cepat secara mudah. Sebab, kapasitas memori manusia sejatinya besar. Yang kecil adalah persepsinya. Persepsi inilah yang kerap maju membentengi sehingga aliran informasi sedikit dan belum tentu bermanfaat.

Dengan memori episodik dan semantik, sejatinya, manusia terbuka saja terhadap pesan apa pun yang ia terima, baik lewat visual, auditori, dan pengalaman kinestetiknya. Tak perlu ada kekhawatiran bahwa pesan baru akan menumpuki atau bahkan menghapus pesan lama yang sudah terlebih dulu masuk.

Dengan mengesampingkan kekhawatiran ini, sejatinya, saat membaca tulisan, mengikuti pelatihan, atau menjalani coaching, klien tidak perlu cemas bahwa pesan baru yang diterimanya bakal ditolak oleh memori. Tidak perlu! Terima saja dengan gembira. Sebab, otak punya kepiawaian dalam menyaring dan menempatkan ke bilik mana saja pesan didistribusikan. Bukan melulu dilepeh.

Nah, sampai di sini, rasa penasaran saya berlanjut. Persisnya, bagaimana ya cara mengaktifkan otak episodik dan otak semantik ini? Lebih spesifik lagi, bagaimana cara cepat dan massif untuk mengaktifkannya secara mudah dan efektif?

Sampai di sini, saya membiarkan saja pertanyaan ini menggantung. Tak saya penggal, tak pula saya carikan jawabannya segera. Ada kalanya otak ini perlu saya biarkan untuk berkelana secara suka-suka sambil yakini bahwa ia punya kemampuan dahsyat untuk menerima dan mengategorikannya ke kubikel-kubikel yang tertata rapi dan luas.

Bali, 2 Agustus 2017

@AAKuntoA

Related posts