You are here
Jangan Jualan Jika Ingin Laris Coaching Copywriting NLP 

Jangan Jualan Jika Ingin Laris

Kita hidup di era berkelimpahan sekarang. Kelimpahan yang terutama adalah kelimpahan INFORMASI. Kebingungan kita bukan lagi bagaimana mengais informasi, melainkan mengelola informasi. Dan ini bukan pekerjaan yang ringan.

Bayangkan, sebagaimana banjir air… namanya juga banjir… airnya keruh. Untuk menyelamatkan barang-barang berharga yang sudah terendam air tidaklah mudah. Menyelam di dalamnya sekali pun sudah membedakan mana yang berharga dan mana yang tidak.

Begitu juga BANJIR INFORMASI. Sejak era media digital “booming”, informasi melimpah-ruah dari segala penjuru. Sumbernya bukan lagi media mainstream seperti koran, channel berita TV/radio, dan portal daring, melainkan dari media alternatif seperti media sosial (FB, Twitter, Path). Semua orang di sekeliling kita tiba-tiba menjadi sumber berita. Bahkan, kita pun mendadak bisa jadi sumber berita bagi orang lain.

 

BANJIR JUALAN

Merembet ke bisnis, meledaknya media digital jadi rejeki bagi pebisnis. Lahirlah banyak start-up business yang berbasis media digital. Juga, lahir banyak toko online, baik berupa market place maupun nebeng di akun-akun pribadi. Berubahlah perilaku bisnis: tak perlu sewa kios, tak perlu stok barang, dan konsumen pun tak perlu jauh-jauh ke mal untuk belanja. Jual-beli cukup dengan klik saja.

Namun, lama-kelamaan banjir juga. Di mana-mana orang buka lapak dagangan. Di mana-mana betebaran “copywriting” yang ujung-ujungnya jualan. Semua merayu, semua merajuk, minta dilarisi. Semua bilang barangnya nomor satu! Bahkan, semua pelapak “mengancam”: jangan nyesel kalau besok kehabisan! Akibat “banjir copywriting”, orang pun hafal dengan “copywriting script” standar yang gitu-gitu aja.

Memang, untuk pembeli pemula, penawaran yang menggiurkan mudah membuat mereka terpesona. Namun, untuk pembeli kawakan, apalagi yang tahu “copywriting”, penawaran yang menggiurkan justru bumerang: dianggap lebay!

 

Virginy Stoner 20170527_124825

NAIKKAN KELAS UNTUK SEGMEN ATAS

Pembeli kawakan, yakni kalangan atas, atau kalangan terdidik (well educated), tidak suka dengan penawaran yang biasa-biasa saja. Mereka sangat selektif dan kritis dalam memilah dan memilih penawaran. Hanya jika memenuhi syarat tertentu, penawaran mereka terima. Dan hanya jika memenuhi syarat tertentu, mereka bersuka cita untuk turut memasarkan produk kita ke komunitasnya.

Nah, syarat apa saja yang harus dipenuhi untuk bikin penawaran kepada segmen atas ini? Inilah yang akan saya ajarkan dan latihkan kepada anda yang ikuti MAGNETIC-SELLING COPYWRITING WORKSHOP Batch #4 di Bali, 17 Juni 2017. Khusus untuk anda yang mau lipat-gandakan penjualan dengan:

  • bikin pembeli yang ambil keputusan, bukan anda yang memaksakan jualan
  • naikkan kelas/nilai produk/jasa dari biasa menjadi premium
  • ciptakan loyalitas pembeli dengan ikat hati mereka

di workshop sehari ini, saya akan ajari dan latih anda langsung praktik:

  • pahami struktur pikiran manusia dan cara menguasainya secara NLP (Neuro-Linguistic Programming)
  • pahami arah dasar motivasi pembeli kelas atas dan cara mengoptimalkannya
  • mengelola dilema pembeli, dan buat mereka berinisiatif membeli penawaran anda
  • teknik menulis bahasa iklan yang halus dan natural “jualan tanpa terasa jualan”
  • teknik menulis cerita berbasis “story telling” yang sudah terbukti ampuh menembus filter kritis pembeli

 

Di musim banjir informasi, jangan sebarkan informasi yang pasti ditolak pembaca! Di musim pebisnis rebutan tampilkan dagangan mereka, jangan jualan yang pasti ditolak pembeli.

Ada cara BALIK ARAH ANGIN! Seperti magnet, balik kutub sehingga PEMBELI YANG PUTUSKAN MEMBELI sepenuh hati!

Supaya intensif, kelas sengaja dirancang sangat terbatas. Pastikan anda dapatkan kursi dengan daftar ke WA AA Kunto Manajemen 085792717738, sekarang! Dapatkan early bird dan penawaran spesial lain sebelum 5 Juni 2017.

 

Salam laris,

@AAKuntoA
CoachWriter

Penulis buku 7 Steps of Writing Coaching dan Selfie Writing for Authentic Personal Brandingyang cetak ulang 8 kali dalam setahun hanya dengan menceritakannya di media sosial.

Chief Content & Marketing iDOKUDOKU, portal finansial tepercaya

 

Related posts