You are here
Banyak Orang Belum Menyadari Ini Buku Coaching Copywriting Menulis NLP 

Banyak Orang Belum Menyadari Ini

“Tapi, saya tidak mau jadi penulis, Mas,” elak seorang klien di awal-awal kami berbincang tentang pentingnya penguasaan kecakapan menulis. Orang tersebut ingin belajar menulis namun tidak ingin menjadi penulis. Dia pun sempat mengira bahwa saya hanya mau melatih orang yang jadi penulis buku.
 
“Oh, tidak,” saya meluruskan, “Yang saya harapkan menjadi penulis buku adalah mereka yang membeli dan membaca buku saya 7 Steps of Writing Coaching. Buku tersebut memang saya niatkan untuk membantu mereka yang ingin menulis buku secara mudah.
 
Menulis buku pun tak saya arahkan untuk menulis buku tertentu. Saya tidak membatasi seseorang mesti menulis buku ilmiah, sastra, maupun populer. Yang belum pernah saya layani adalah permintaan untuk mendampingi klien menyusun buku komik. Ya karena belum pernah ada yang meminta. Jika ada yang meminta tentu saya pertimbangkan.
 
Buku yang mau ditulis pun tak harus diterbitkan di penerbit mayor dan didistribusikan di toko buku. Tentu baik jika ada yang naskahnya dikirimkan ke penerbit mayor. Namun, jika kemudian mau diterbitkan sendiri (self publishing), atau terbit lewat penerbit indie, saya bantu juga.
 
Bagaimana dengan e-book? Tentu ini media baru yang tidak perlu dihindari kehadirannya. Kini buku tak harus berupa cetak. Cetak pun bisa hanya satu atau beberapa eksemplar untuk pembaca terbatas. Berapa pun yang penting diterbitkan dan dibaca orang lain. Bukan ditulis, diterbitkan, lalu dibaca sendiri hahaha…
 
 

MENULIS NON BUKU

 
Di luar itu tentu saya tak menuntut siapa pun untuk menulis buku. Sama sekali tidak. Ada beberapa pertimbangan:
Pertama, tidak semua orang suka menulis buku. Bebas, suka-suka. Nggak suka ya boleh kok. Dan tak perlu mengajukan alasan apa pun kenapa tidak suka.
 
Kedua, tidak semua orang sanggup menulis buku. Kesanggupan ini berkaitan dengan panjang naskah. Minimal, dalam ukuran saya, untuk jadi buku, penulis mesti merampungkan naskah sepanjang 150 halaman. Kurang dari itu terlalu tipis. Tapi kurang dari itu ya nggak apa-apa. Pendek tak selalu berarti tak lengkap. Banyak kok buku tipis yang sangat menarik. Selain karena topiknya menarik, penulisnya bisa menghadirkan naskah memikat, juga karena banyak juga pembaca yang lebih suka membaca buku ringkas daripada buku kompleks.
 
Nah, ketiga, berkaitan dengan selera pembaca, tren ini juga mesti disadari. Media penyampaian pesan tak hanya lewat buku, koran, atau portal arus utama. Kemajuan teknologi komunikasi telah menyediakan ruang-ruang baru untuk menuangkan buah pikir. Ada media sosial yang kini boleh dibilang setiap orang memilikinya: Facebook, Instagram, Line, Path, G+, dll. Belum lagi ruang chatting yang populer untuk bertukar gagasan seperti Whatsapp dan Telegram. Selain email tentu saja yang tak surut fungsinya.
 
Artinya, kecakapan menulis menjadi sangat penting jika tidak mau hanya menjadi penonton atau tukang comot-tempel (copy-paste). Sayang kan sudah tersedia begitu banyak ruang tapi nggak dimanfaatkan.
 
Nah, untuk anda yang ingin mengasah kecakapan menulis, hubungi saya sekarang di SINI. Klik saja sekali dan anda langsung terhubung dengan saya.
 
Bali, 29 Agustus 2017
@AAKuntoA
CoachWriter
 
 

Related posts